Home » Kongkow » Tokoh » Profil Kiai Haji Ahmad Dahlan Pendiri Muhammadiyah

Profil Kiai Haji Ahmad Dahlan Pendiri Muhammadiyah

- Rabu, 18 November 2020 | 18:42 WIB
Profil Kiai Haji Ahmad Dahlan Pendiri Muhammadiyah

Muhammadiyah, organisasi Islam terbesar kedua di Indonesia setelah Nahdlatul Ulama. Nama organisasi ini diambil dari nama Nabi Muhammad SAW, sehingga Muhammadiyah juga dapat dikenal sebagai orang-orang yang menjadi pengikut Nabi Muhammad SAW. Tujuan utama Muhammadiyah adalah meluruskan penyimpangan yang sering menyebabkan ajaran Islam bercampur-baur dengan kebiasaan di daerah tertentu dengan alasan adaptasi. Pendiri Muhammadiyah adalah Kiai Haji Ahmad Dahlan. 

Profil KH Ahmad Dahlan

KH Ahmad Dahlan memiliki nama asli Muhammad Darwis, lahir di Yogyakarta, 1 Agustus 1868. Ahmad Dahlan adalah anak keempat dari tujuh bersaudara yang ada di keluarga KH Abu Bakar. Ayahnya seorang tokoh agama terkemuka, khatib di Masjid Besar Kasultanan Yogyakarta di era Hindia Belanda. Ibunya, Siti Aminah, adalah putri Haji Ibrahim, penghulu di Kesultanan Yogyakarta pada masa itu.

Ditelusuri lebih jauh, silsilah Kiai Dahlan sampai pada salah satu Wali Songo, yaitu Maulana Malik Ibrahim yang juga terhubung ke Nabi Muhammad SAW. Muhammad Darwisy bin K.H. Abu Bakar bin K.H. Muhammad Sulaiman bin Kiai Murtadla bin Kiai Ilyas bin Demang Djurung Djuru Kapindo bin Demang Djurung Djuru Sapisan bin Maulana Sulaiman Ki Ageng Gribig (Jatinom) bin Maulana Muhammad Fadlullah (Prapen) bin Maulana Ainul Yaqin bin Maulana Ishaq bin Maulana Malik Ibrahim.

Dahlan mengenyam pendidikan di pesantren. Pada usia 15 tahun, ia berangkat haji dan menetap di Kota Mekkah selama 5 tahun. Selama di Mekkah, Kiai Dahlan memperdalam ilmu agama dan juga berinteraksi dengan Muhammad Abduh, Al-Afghani, Rasyid Ridha, dan Ibnu Taimiyah yang memiliki pemikiran-pemikiran pembaharu dalam Islam. 

Pada usia 20 tahun pada 1888, ia kembali pulang ke kampung dan mengubah namanya Muhammad Darwis menjadi Ahmad Dahlan. Namanya itu diberi oleh seorang syekh dari perguruan syariat Syafi’i yang bernama Sayyid Bakri Shatta. Di Mekkah, Kiai Dahlan berhubungan juga dengan jemaah haji dari Jawa Barat, Minangkabau, Aceh, Sulawesi dan daerah lain yang memiliki kepercayaan kuat terhadap Islam. 

Dari situ, ia bersama teman-teman memiliki keinginan yang sama melawan penjajah Belanda dan perlunya memurnikan Islam di Indonesia. Sepulangnya dari Makkah ini, ia pun diangkat menjadi Khatib Amin di lingkungan Kesultanan Yogyakarta.

Pada tahun 1902-1904, ia kembali menunaikan ibadah haji untuk kedua kalinya yang dilanjutkan dengan memperdalam ilmu agama kepada beberapa guru di Mekkah. Sepulang dari Mekkah, ia menikah dengan Siti Walidah, saudara sepupunya sendiri, anak Kiai Penghulu Haji Fadhil, yang kelak dikenal dengan Nyai Ahmad Dahlan, seorang Pahlawan Nasional dan pendiri Aisyiyah. Dari perkawinan tersebut, ia dikaruniai enam orang anak, yaitu Djohanah, Siradj Dahlan, Siti Busyro, Irfan Dahlan, Siti Aisyah, Siti Zaharah.

Kiai Dahlan kembali menikah dengan Nyai Abdullah, janda H. Abdullah. Ia juga pernah menikahi Nyai Rum, adik Kiai Munawwir Krapyak. Kiai Dahlan juga mempunyai putra dari perkawinannya dengan Ibu Nyai Aisyah (adik Ajengan Penghulu) Cianjur yang bernama Dandanah. Selain itu, ia pernah menikah dengan Nyai Yasin, Pakualaman Yogyakarta.

 

Mendirikan Muhammadiyah

Pada tahun 1912, Kiai Dahlan mendirikan Muhammadiyah di kampung halamannya, Kauman, Yogyakarta. Pada tahun 1921 Muhammadiyah diberi izin oleh pemerintah Hindia Belanda untuk mendirikan cabangnya di daerah lain. 

Dalam dakwahnya, Kiai Dahlan melakukan banyak usaha besar yang terarah, seperti mendirikan rumah pengobatan, rumah sakit, panti asuhan, pemeliharaan kaum miskin, sekolah, serta madrasah setelah Muhammadiyah kukuh berdiri. Pengalaman mengelola organisasi itu diperoleh Kiai Dahlan dari keaktifannya dalam  organisasi Boedi Utomo dan Sarekat Islam. 

Pada tahun 1896, namanya menjadi pembicaraan khususnya di Yogyakarta, karena melakukan pembetulan terhadap arah kiblat pada langgar-langgar dan masjid-masjid di Yogyakarta. Pada masa itu kebanyakan tempat ibadah menghadap ke arah Timur dan banyak orang yang melakukan salat menghadap lurus ke Barat. Kiai Dahlan melakukan pembetulan tersebut dengan Ilmu Falak yang dikuasainya. Berdasarkan Ilmu Falak tersebut, arah kiblat Pulau Jawa saat itu seharusnya condong ke Utara kira-kira 24,5 derajat.

Karena kegiatannya yang terlalu sibuk, Kiai Dahlan mengalami gangguan kesehatan sejak tahun 1922. Atas saran dokter, pada tahun 1923, ia harus beristirahat di Gunung Tretes, Malang, Jawa Timur, sebelum akhirnya kembali ke Yogyakarta untuk menghadiri rapat tahunan Muhammadiyah. Dalam pembukaan rapat tahunan tersebut, Kiai Dahlan masih sempat memberikan sambutan. 

Kesehatannya terus menurun hingga akhirnya Kiai Dahlan meninggal pada tanggal 23 Februari 1923 dan dimakamkan di Karangkajen, Yogyakarta, serta diberi gelar Pahlawan Nasional oleh Pemerintah Republik Indonesia melalui Surat Keputusan Presiden nomor 657 tahun 1961.

Dasar-dasar penetapan itu ada empat faktor. KH. Ahmad Dahlan dianggap telah berhasil membangkitkan umat Islam bahwa saat itu bangsa Indonesia sedang dijajah yang masih harus banyak belajar dan berbuat.

Kiai Dahlan merupakan sosok ulama yang sangat hati-hati dalam kehidupan sehari-harinya. Ada sebuah nasihat yang ditulisnya dalam bahasa Arab untuk dirinya sendiri:

“Wahai Dahlan, sungguh di depanmu ada bahaya besar dan peristiwa-peristiwa yang akan mengejutkan engkau, yang pasti harus engkau lewati. Mungkin engkau mampu melewatinya dengan selamat, tetapi mungkin juga engkau akan binasa karenanya. 

Wahai Dahlan, coba engkau bayangkan seolah-olah engkau berada seorang diri bersama Allah, sedangkan engkau menghadapi kematian, pengadilan, hisab, surga, dan neraka. Dan dari sekalian yang engkau hadapi itu, renungkanlah yang terdekat kepadamu, dan tinggalkanlah lainnya."

Cari Artikel Lainnya